Minggu, 05 Oktober 2014

Renungan : Servanthood Spirit (Semangat Kehamba'an)


Biasanya kata "hamba" dikontraskan dengan kata "tuan" dan orang yang "merdeka". pada zaman alkitab, seseorang hamba adalah milik tuannya sepenuhnya, berarti tuan berhak melakukan apa saja terhadapnya. Seseorang hamba tidak memiliki kebebasan, ia terikat sepenuhnya kepada tuannya. Ada orang yang lebih berhak atas dia, ada orang yang mengatur hidupnya dan kepadanya ia harus tunduk.

Sampai deengan saat ini, sebagai orang kristen masih beranggapan bahwa sebutan "hamba Tuhan" hanya berlaku untuk para pendeta, atau mereka yang lulus theologia. tetapi sebenarnya sebutan itu secara umum bisa dipakai kepada semua orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Kita semua adalah hamba-hamba Tuhan, artinya Tuhanlah yang menjadi tuan kita, Dialah yang menjadi tuan kita. Tetapi tentu saja sebutan "hamba Tuhan" juga menuntut sikap hati seorang hamba. Kalau kita menyebut diri kita hamba, kita harus memiliki hati seorang hamba.
Bagaimana hati seorang hanba itu?

Pertama, memiliki ketaatan. Tanpa prang tidak akan berkenan kepada Allah. Ketaatan kepada Allahlah yang membuat kita melakukan firman-Nya. Gambaran ketaatan total dapat kita lihat dalam Yesus, dimana Ia rela mati karena ketaatan-Nya. Ketaatan seperti inilah yang Allah inginkan di dalam kehidupan kita. Kita tidak lagi mengikuti kehandak diri sendiri, tetapi mengikuti kehendak Allah. Sebuah ketaatan akan meringankan langkah kita untuk datang ke rumah-Nya pada hari minggu serta meninggalkan kesibukan maupun hobbi kita.

Kedua, memiliki kesetiaan. Kesetiaan adalah keteguhan atau ketetapan hati. setiap mempekerjakan seseorang, kita mengharapkan agar ia setia dan langgeng bekerjanya pada kita. Pada zaaman romawi, setiap hamba diberi sebuah lencana terhadap tulisan "tangkaplah saya jika saya barusan melarikan diri, dan kembalikan saya pada tuan saya" seharusnya kesetiaan dan komitmen yang seperti inilah yang harus kita miliki di dalam mengikuti Kristus.

Ketiga, memliki kerendahan hati. Yesus pernah membasuh kaki murid-murid-Nya untuk memberikan pelajaran bagi mereka bahwa mereka harus saling melayani satu dengan yang lainnya. saling melayani membutuhkan kerendahan hati dan kerelaan untuk mengesampingkan kepentingan diri sendiri. Karena kerendahan hatilah seorang hamba yang rendah hati tidak akan merasa terluka ketika ia tidak menerima penghargaan, ketika orang menolaknya dan ketika pendapatnya tidak dipedulikan.

Jika kita adalah seorang pemimpin, jadilah seorang pemimpin, berhati hamba yang rela melayani dan tidak minta dinomer satukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar